Cinematography in Female Perspective

Cinematography in Female Perspective

By Juju & Agasta

15 March 2022

Dalam program Sunset Discussion ke-2, 'Cinematography in Female Perspective' menjadi topik yang kami usung. Diskusi ini menghadirkan Angela Andreyanti, Amalia Trisnasari,I.C.S, Anggi Frisca, I.C.S, Charita Chandra dan Bella Panggabean. Yuk simak obrolan mereka...

Pada #SunsetDiscussion kedua ini – topik yang diangkat kali ini ‘Cinematography in Female  Perspective’ – atau Sinematografi dalam sudut pandang perempuan. Khususnya perempuan  yang bergelut di Departemen Sinematografi. Angela Andreyanti atau dikenal dengan  panggilan akrab Bibhier, Anggi Frisca atau Cumit dan Amalia Trisnasari berbagi pandangan  dan pengalaman mereka selama berkarir di Departemen Kamera. Departemen yang pada  umumnya identik dengan laki-laki.  

Perbincangan dibuka oleh Bibhier dengan bertanya kepada teman-teman yang hadir – ‘Menurut kalian, apa itu woman atau female cinematographer?’ Beberapa teman-teman  meresponnya dengan beragam, seperti ‘cute’, ‘kuat’, ‘sexy’ diiringi dengan canda-tawa yang  mencairkan suasana. Kemudian, Bibhier memberikan garis besar akan ‘Apa rasanya menjadi  female cinematographer?’ 

“Terasa sekali effort yang mesti dibangun, tidak semudah seperti laki-laki yang  mengejar profesi itu. Ada beberapa hal yang mesti dihadapi seperti sexual  harassment baik secara verbal maupun fisik. Bila meniliknya secara karir, terdapat  beberapa lapisan yang mesti dilalui dalam departemen ini – mau itu di departemen  grip, lighting, kamera. Ada hal yang secara basic, perempuan itu sulit – seperti  mengangkat HMI 4 kw. Kita sering mendapat petuah bahwa kita tidak boleh  mengangkat hal-hal yang berat. Mungkin di satu sisi ini dapat dilihat semacam  gender harassment. Gimana caranya itu tidak boleh menjadi excuse sebagai  perempuan untuk bisa tetap berkarir di departemen ini. Terkait dengan menikah – marital status juga cukup mempengaruhi langkah seorang perempuan untuk  menjadi woman cinematographer. ” - Angela Andreyanti 

Feminitas di dunia yang sangat maskulin mungkin membuat image seorang woman/ female cinematographer menjadi sangat unik dan istimewa. Karena termasuk minoritas, tantangan  yang dilalui cukup berat, butuh motivasi yang lebih dari hanya sekedar menjadikan ini sebagai  sebuah profesi. Pendorong paling tinggi haruslah passion – karena akan banyak menemukan  hal-hal yg membuat down, batasan-batasan, dan sandungan dari pihak luar.  

Angela Andreyanti dan Jenjang Karir di Departemen Kamera 


Angela termasuk yang memikirkan tentang spesialisasi yang dimiliki tiap Sinematografer – berdasarkan genre ada yang spesialis di horror, ada di romantic comedy, ada yang action. Ada  momen dimana ia mendapat genre yang action – terasa sekali patriarkinya. Keilmuan itu  sifatnya mesti di-referesh. Jadi pasca hamil dan cuti 11 bulan ada begitu banyak perasaan lack  of knowledge, lack of updating, and lack of lain-lainnya. Apa yang ditakuti perempuan secara  general? Pertama, Ketinggian – sebagai contoh Anggi Frisca, dia coba menakhlukan 7 gunung.  Itu mempertanyakan ulang gambaran general akan perempuan yang takut ketinggian. Kedua, 

Kedalaman – sebagai contoh Charita yang dikenal sebagai underwater cinematographer – dia  seperti menantang konsepsi perempuan yang takut akan kedalaman air. 


“Yang membentengi semua halangan dan rintangan untuk menjadi women/female  cinematographer – apapun itu – adalah passion. Jika tidak memiliki itu, mungkin  tidak akan siap.” - Angela Andreyanti 

Anggi Frisca dan Jenjang Karirnya di Departemen Kamera 

Anggi Frisca mengawali karirnya sebagai asisten kamera selama 2 tahun. Kemudian, menjadi  Camera operator. Lalu, 2007 ia memulai karirnya sebagai sinematografer. Film pertamanya  kala itu ‘Tanah Surga Katanya’. Ia merasa bahwa langkahnya menjadi Sinematografer termasuk cepat. Ada fase antara yakin dan tidak yakin. Karena di momen itu berarti ia sudah  tidak lagi dapat turun ke bawah. Sempat mendapat tawaran film, namun saat itu ia tidak  merasa cocok. Pada film kedua ia merasa tidak berhasil. Ia lalu mundur dari industri, dan  belajar untuk menjadi independen. Negeri Dongeng, Night Bus dan Sekala Niskala kemudian 

menjadi film berikutnya ia kembali dan belajar lagi. 3 film yang berbeda genre. Ibarat masuk  kedalam goa. Ia kemudian mulai mepertanyakan kembali, apa sebanarnya film itu bagi  seorang Sinematografer – bagaimana menghidupkan rasa untuk cerita ini?. Ini jadi semacam  tantangan baginya. Kemudian tahun 2018 Ia mendapat MGGA kategori best Cinematography untuk film Sekala Niskala.  


Bagi Anggi, Ia tidak pernah merasa mengalami sexual harassment. Ia merasa selama ini  termasuk orang yang culas. Ia mengerjakan apa yang memang seharusnya dikerjakan, tidak  ada pembagian perempuan tidak boleh ini dan itu. Perempuan dan laki-laki sama saja terkait  dengan pekerjaan.  

Amalia T.S dan Jenjang Karirnya di Departemen Kamera 

Amalia T.S sebelumnya ingin menjadi sekretaris, bahkan ia termasuk yang tidak terlalu  mengenal orang yang bekerja di balik layar film. Ia mengawali karirnya dari departemen  Lighting. Pertama kali berada di departemen lighting ia sempat ditugaskan memasang 4 

    lampu Kinoflo di ‘steger’ empat trap (tingkat). Semasa sekolah, Lia, Angela, Anggi dan Rita  tumbuh bersama di Departemen itu. Ia merasa pada prosesnya tidak hanya mengandalkan  fisik, namun juga pikiran. Amalia berada di Departemen Lighting sekitar 3 hingga 4 tahun. Kala  itu Ia hanya mengurus kabel dan fitting. Ia kemudian mulai berkarir di Departemen Kamera – mulai dari Camera Report, Loader lalu asisten kamera pertama atau 1st AC. Menurut Amalia,  ia menjadi Sinematografer merupakan sebuah kecelakaan. Ia memulai dari banyak  mengerjakan film-film independen. Dari bekibolang, someone wife in the boat of someone  husband, rocket rain. 2013 ia mulai dipercaya untuk memegang film komersil pertama  berjudul ‘Tabula Rasa’. Ia merasa film komersil memiliki cara yang sedikit berbeda. Tidak  benar-benar bisa bereksperimen – layaknya saat mengerjakan film independen. 


Mengenai sexual harassment. Menurut Amalia, semua perempuan potensi untuk mengalami  hal tersebut, hanya saja how to handle ketika dilapangan yang harus disiasati. Ia sempat  mensiasati hal tersebut dengan memakai ‘boxer pria’ setiap menjalani proses syuting – untuk  menyamarkan diri dan menghindari kemungkinan pelecehan saat menjalani profesi yang  mayoritas laki-laki tersebut. 

“Kita harus bisa mensiasati hal-hal yang mengarah kesitu. Lo tetep boleh dandan,  bukan berarti harus selalu terlihat tomboy, kebetulan itu siasat yang dulu gw pakai. Treatment perempuan beda-beda. Harus tau cara menjaga diri sendiri”. Amalia  Trisnasari, Sinematografer”. -Amalia Trisnasari 

Bicara era dulu dan sekarang, sedikit terlihat perbedaan treatment dan cobaannya. Dulu  tekanan mental itu sangat kuat, apa-apa yang diserang mental. Sampai-sampai dulu terhitung  hanya 1-2 orang saja yang berkeinginan untuk menjadi seorang Sinematografer. Menjadi sinematografer selain harus mempunyai skill dan attitude yang baik, hal terpenting lainnya – yakni mental. Sebagai perempuan, mental juga tidak boleh rapuh. 

“Jangan pernah memanfaatkan ke-cewek-an lo untuk meraih sesuatu”. -Amalia  Trisnasari 

Disamping itu hal yang juga penting adalah teamwork – membangun kepercayaan di dalam  satu departemen. 

Charita Chandra dan Jenjang Karirnya di Departemen Kamera  

Charita Chandra (1998) – menikah selama dua belas tahun dan telah memiliki dua anak.  Setelah berumah tangga adakah keinginan untuk kembali ke dunia sinematografi? Charita  dikenal sebagai satu-satunya Female Underwater Cinematographer.Charita banyak aktif di dokumenter khususnya di underwater. Ia masih aktif pasca menikah  hingga punya anak pertama. Kemudian ia mulai vakum lama pasca anak kedua – sudah 7  tahun. Ia lalu memutuskan konsen mengurus keluarga – ia menyudahi dulu sinematografi  sebagai sumber mencari nafkah. Namun, untuk urusan passion – proyek independen tetap  berjalan. Dokumenter dan sinematografi tetap ia jalani. 

Charita menceritakan pengalamannya belajar scubadiving. Ada hal-hal teknis yang perlu  dipelajari secara mendalam ketika ia harus menyelam ke dalam air – Antara aman dan tidak  aman. Apalagi jika mendapatkan tantangan untuk mengambil gambar pada kedalaman  tertentu. Menurut Charita, selama dilakukan sesuai prosedur, prosesnya akan aman-aman  saja. Ketika sudah menyelam, ia akan ambil shot sebanyak mungkin – karena bisa saja itu 

dibutuhkan. Dalam prosesnya juga mesti adanya keyakinan terhadap tim. Bella Pangabean dan Jenjang Karirnya di Departemen Kamera  

Bella Pangabean berangkat dari komunikasi – bagian advertising. Dimulai dari kesenangannya  pada fotografi, Ia kemudian memulainya dari pengawal alat, kemudian asisten kamera,  camera operator sampai menjadi Director of Photography / DP TVC pada 2018. Pertama kali  ia mendapat tawaran membuat film dari rekan fakultas, namun saat itu ia belum mengenal  apa itu DP, sebelum akhirnya itu menjadi pilihannya sebagai profesi. 


Keistimewaan menjadi seorang woman/ female cinematographer. Di mata Angela – ia  merasa vocabulary warna pada perempuan itu lebih kaya dibanding laki-laki. Neuronnya lebih  beragam. Ada yang meneliti mengenai itu. Seperti contohnya, bagi perempuan warna hijau  tidak hanya satu, ada hijau pupus, hijau army, hijau daun, dan lain lain. Sementara bagi laki 

laki hijau hanyalah hijau. Selain itu, management – Itu adalah kekuatan perempuan.  


Sesi Tanya Jawab 

Bagaimana saat seorang Sinematografer perempuan mengalami titik jenuh atau  tekanan?  

Titik jenuh dapat dilihat secara beragam. Titik Jenuh Anggi ada di film kedua – ia merasa film tersebut tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Ia mulai mencoba mengubah energi  negative menjadi energi positif. Jadi segala sesuatu yang dianggap masalah, diubah  menjadi sebuah tantangan. Masalah itu diswitch jadi challenge

Menyikapi kejenuhan, Bagi Amalia setiap orang berbeda-beda. Ia justru akan merasa  jenuh jika tidak menjalani shooting. Jika sudah bicara passion, justru itu akan susah lepas. Malah sulit menemukan kejenuhan.


Bagaimana bentuk sexual harassment kepada perempuan di departemen kamera? 


Masing-masing dari mereka menceritakan pandangan dan pengalamannya mengenai  sexual harassment – Angela merasa itu bisa terjadi secara verbal. Mungkin bisa  disiasatinya dengan bercanda.  

“Dari diri kita masing-masing mesti bisa menakar arah dari semua itu. Bila memang  dari verbal dirasa sudah naik step ke hal yang tidak pantas, baru bertindak”. -Angela  Andreyanti 

Menurut Anggi kita harus bisa membaca – seperti contohnya bisa memahami atasan yang  secara mulut mungkin memang ‘sampah’, tetapi hatinya baik. Terkadang ia menganggap  hal itu baik bagi perkembangannya, agar mentalnya lebih kuat. Sebenarnya ekosistem  juga mempengaruhi, bagaimana attitude laki-laki yang ada di departemen kita. 

lingkungan juga perlu untuk membentengi sexual harrasement, harus punya mekanisme  sendiri untuk melawan itu – Full support terhadap sistem. 


“Ketika suatu saat menjadi sinematografer, kita juga perlu menciptakan ruang  lingkup yang free sexual gender, harus saling respect sama masing-masing profesi  yang dijalanin”. -Anggi Frisca 

Kemudian, Amalia menceritakan penting untuk kita tahu bagaimana membawa diri. Dulu  Ia sempat mengalami perlakuan yang kurang mengenakkan secara fisik. Hal itu membuat  ia harus semakin menjaga diri, dan belajar mensiasati apabila hal itu terjadi lagi. Seperti  saat ia mendapat perlakuan tersebut, ia harus mampu membaca situasi yang tepat untuk  menindak lanjuti, karena menurutnya itu adalah hal yang tidak boleh dibiarkan. 

“Jaman dulu untuk speak up itu sulit, bahkan untuk meminta perlindungan aja tidak  tahu harus kemana – apalagi disaat masih membangun karir. Ada ketakutan hal itu  akan mengancam karir – takut jadi gak ada callingan. Sekarang setidaknya  pembahasan Sexual harassment sudah sedikit lebih terbuka. Sudah mulai  diperbincangkan. Apalagi udah jamannya viral – semua bisa diviralin lewat media”. - Amalia Trisnasari 

Menurut Bella, sexual harrasement bagi women cinematographer pasti terjadi, dengan  pengalaman personal masing-masing. Yang perlu dipertanyakan, saat itu terjadi apakah  kita nyaman? Sedangkan kita akan terus berada di siklus itu. Ini adalah hal penting.  

“Apabila kita merasa mental health kita terganggu, lebih baik lapor. Kadang Kita yang  sakit – kita yang stress – orang tidak ada yang tahu. Itu hal yang sangat menggangu”. -Bella Panggabean-


Diskusi pada tema kali ini cukup dinamis, pertanyaan yang dilontarkan tidak hanya dari pihak  perempuan saja, namun banyak juga dari pihak laki-laki yang ingin mengetahui perspektif  lebih dari seorang perempuan di departemen kamera. Adapun kesimpulan yang dapat ditarik  dari sesi kali ini yakni, 

1. Perempuan mesti memiliki knowledge dan skill yang sama dengan laki-laki. Skill itu  bisa diasah terus menerus. Selain itu Attitude juga hal yang penting. 

2. Menjadi perempuan ternyata bukanlah “batasan” untuk bisa menjadi seorang  Sinematografer. Masing-masing dari kita harus saling respect dengan profesi yang  dijalani. 

3. Tidak ada perbedaan jenjang karir yang dilewati oleh prempuan dan laki-laki. Semua  melewati jenjang yang sama, baik dari gulung kabel, lighting, gaffer, asisten kamera, operator kamera, hingga sinematografer. 

4. Perspektif masing-masing dari women/ female cinematographer mengenai Sexual  harassment membuktikan bahwa, Lingkungan kerja di departemen kamera ternyata belum cukup ramah terhadap perempuan. Sehingga dirasa cukup penting untuk  menindak lanjuti hal-hal tersebut, demi menciptakan lingkungan industri yang sehat,  nyaman dan jauh dari segala bentuk pelecehan.

The ASC was established to formalise the role of and distinguish cinematographers from camera operators, but it had more to do with practicalities and problem solving. In the silent film era, movie cameras were generally heavy hand-cranked machines, and the centre of gravity of the US film industry was shifting from the east coast to the west. The technology and the medium were new, so camera operators everywhere faced common difficulties, such as annoying white streaks on footage, caused by static electricity. The east-coast based Cinema Camera Club, formed by a team of Edison’s camera operators, and the Static Club of America, based in Los Angeles and led by Universal’s Harry H Harris, collaborated on solutions to these issues, pooling their wisdom. Soon enough, Edison cinematographer Phil Rosen suggested a national organisation to his Hollywood colleague Charles Rosher.

“It’s not just about making pretty pictures,” says Mandy Walker, whose CV includes Hidden Figures, Australia and the forthcoming Mulan.

Rachel Morrison, the first woman Oscar-nominated for cinematography, on the set of Mudbound. Photograph: Steve Dietl/AP

‘I loved working on The Love Witch because I was able to recreate a lot of the lighting from the 50s and 60s,’ says cinematographer David Mullen. Photograph: Allstar/ Oscilloscope

Watch the trailer for Leave No Trace, shot by Michael McDonough

Related Articles