Pada #SunsetDiscussion kedua ini – topik yang diangkat kali ini ‘Cinematography in Female Perspective’ – atau Sinematografi dalam sudut pandang perempuan. Khususnya perempuan yang bergelut di Departemen Sinematografi. Angela Andreyanti atau dikenal dengan panggilan akrab Bibhier, Anggi Frisca atau Cumit dan Amalia Trisnasari berbagi pandangan dan pengalaman mereka selama berkarir di Departemen Kamera. Departemen yang pada umumnya identik dengan laki-laki.
Perbincangan dibuka oleh Bibhier dengan bertanya kepada teman-teman yang hadir – ‘Menurut kalian, apa itu woman atau female cinematographer?’ Beberapa teman-teman meresponnya dengan beragam, seperti ‘cute’, ‘kuat’, ‘sexy’ diiringi dengan canda-tawa yang mencairkan suasana. Kemudian, Bibhier memberikan garis besar akan ‘Apa rasanya menjadi female cinematographer?’
“Terasa sekali effort yang mesti dibangun, tidak semudah seperti laki-laki yang mengejar profesi itu. Ada beberapa hal yang mesti dihadapi seperti sexual harassment baik secara verbal maupun fisik. Bila meniliknya secara karir, terdapat beberapa lapisan yang mesti dilalui dalam departemen ini – mau itu di departemen grip, lighting, kamera. Ada hal yang secara basic, perempuan itu sulit – seperti mengangkat HMI 4 kw. Kita sering mendapat petuah bahwa kita tidak boleh mengangkat hal-hal yang berat. Mungkin di satu sisi ini dapat dilihat semacam gender harassment. Gimana caranya itu tidak boleh menjadi excuse sebagai perempuan untuk bisa tetap berkarir di departemen ini. Terkait dengan menikah – marital status juga cukup mempengaruhi langkah seorang perempuan untuk menjadi woman cinematographer. ” - Angela Andreyanti
Feminitas di dunia yang sangat maskulin mungkin membuat image seorang woman/ female cinematographer menjadi sangat unik dan istimewa. Karena termasuk minoritas, tantangan yang dilalui cukup berat, butuh motivasi yang lebih dari hanya sekedar menjadikan ini sebagai sebuah profesi. Pendorong paling tinggi haruslah passion – karena akan banyak menemukan hal-hal yg membuat down, batasan-batasan, dan sandungan dari pihak luar.
Angela Andreyanti dan Jenjang Karir di Departemen Kamera
Angela termasuk yang memikirkan tentang spesialisasi yang dimiliki tiap Sinematografer – berdasarkan genre ada yang spesialis di horror, ada di romantic comedy, ada yang action. Ada momen dimana ia mendapat genre yang action – terasa sekali patriarkinya. Keilmuan itu sifatnya mesti di-referesh. Jadi pasca hamil dan cuti 11 bulan ada begitu banyak perasaan lack of knowledge, lack of updating, and lack of lain-lainnya. Apa yang ditakuti perempuan secara general? Pertama, Ketinggian – sebagai contoh Anggi Frisca, dia coba menakhlukan 7 gunung. Itu mempertanyakan ulang gambaran general akan perempuan yang takut ketinggian. Kedua,
Kedalaman – sebagai contoh Charita yang dikenal sebagai underwater cinematographer – dia seperti menantang konsepsi perempuan yang takut akan kedalaman air.
“Yang membentengi semua halangan dan rintangan untuk menjadi women/female cinematographer – apapun itu – adalah passion. Jika tidak memiliki itu, mungkin tidak akan siap.” - Angela Andreyanti
Anggi Frisca dan Jenjang Karirnya di Departemen Kamera
Anggi Frisca mengawali karirnya sebagai asisten kamera selama 2 tahun. Kemudian, menjadi Camera operator. Lalu, 2007 ia memulai karirnya sebagai sinematografer. Film pertamanya kala itu ‘Tanah Surga Katanya’. Ia merasa bahwa langkahnya menjadi Sinematografer termasuk cepat. Ada fase antara yakin dan tidak yakin. Karena di momen itu berarti ia sudah tidak lagi dapat turun ke bawah. Sempat mendapat tawaran film, namun saat itu ia tidak merasa cocok. Pada film kedua ia merasa tidak berhasil. Ia lalu mundur dari industri, dan belajar untuk menjadi independen. Negeri Dongeng, Night Bus dan Sekala Niskala kemudian
menjadi film berikutnya ia kembali dan belajar lagi. 3 film yang berbeda genre. Ibarat masuk kedalam goa. Ia kemudian mulai mepertanyakan kembali, apa sebanarnya film itu bagi seorang Sinematografer – bagaimana menghidupkan rasa untuk cerita ini?. Ini jadi semacam tantangan baginya. Kemudian tahun 2018 Ia mendapat MGGA kategori best Cinematography untuk film Sekala Niskala.
Bagi Anggi, Ia tidak pernah merasa mengalami sexual harassment. Ia merasa selama ini termasuk orang yang culas. Ia mengerjakan apa yang memang seharusnya dikerjakan, tidak ada pembagian perempuan tidak boleh ini dan itu. Perempuan dan laki-laki sama saja terkait dengan pekerjaan.
Amalia T.S dan Jenjang Karirnya di Departemen Kamera
Amalia T.S sebelumnya ingin menjadi sekretaris, bahkan ia termasuk yang tidak terlalu mengenal orang yang bekerja di balik layar film. Ia mengawali karirnya dari departemen Lighting. Pertama kali berada di departemen lighting ia sempat ditugaskan memasang 4
lampu Kinoflo di ‘steger’ empat trap (tingkat). Semasa sekolah, Lia, Angela, Anggi dan Rita tumbuh bersama di Departemen itu. Ia merasa pada prosesnya tidak hanya mengandalkan fisik, namun juga pikiran. Amalia berada di Departemen Lighting sekitar 3 hingga 4 tahun. Kala itu Ia hanya mengurus kabel dan fitting. Ia kemudian mulai berkarir di Departemen Kamera – mulai dari Camera Report, Loader lalu asisten kamera pertama atau 1st AC. Menurut Amalia, ia menjadi Sinematografer merupakan sebuah kecelakaan. Ia memulai dari banyak mengerjakan film-film independen. Dari bekibolang, someone wife in the boat of someone husband, rocket rain. 2013 ia mulai dipercaya untuk memegang film komersil pertama berjudul ‘Tabula Rasa’. Ia merasa film komersil memiliki cara yang sedikit berbeda. Tidak benar-benar bisa bereksperimen – layaknya saat mengerjakan film independen.
Mengenai sexual harassment. Menurut Amalia, semua perempuan potensi untuk mengalami hal tersebut, hanya saja how to handle ketika dilapangan yang harus disiasati. Ia sempat mensiasati hal tersebut dengan memakai ‘boxer pria’ setiap menjalani proses syuting – untuk menyamarkan diri dan menghindari kemungkinan pelecehan saat menjalani profesi yang mayoritas laki-laki tersebut.
“Kita harus bisa mensiasati hal-hal yang mengarah kesitu. Lo tetep boleh dandan, bukan berarti harus selalu terlihat tomboy, kebetulan itu siasat yang dulu gw pakai. Treatment perempuan beda-beda. Harus tau cara menjaga diri sendiri”. Amalia Trisnasari, Sinematografer”. -Amalia Trisnasari
Bicara era dulu dan sekarang, sedikit terlihat perbedaan treatment dan cobaannya. Dulu tekanan mental itu sangat kuat, apa-apa yang diserang mental. Sampai-sampai dulu terhitung hanya 1-2 orang saja yang berkeinginan untuk menjadi seorang Sinematografer. Menjadi sinematografer selain harus mempunyai skill dan attitude yang baik, hal terpenting lainnya – yakni mental. Sebagai perempuan, mental juga tidak boleh rapuh.
“Jangan pernah memanfaatkan ke-cewek-an lo untuk meraih sesuatu”. -Amalia Trisnasari
Disamping itu hal yang juga penting adalah teamwork – membangun kepercayaan di dalam satu departemen.
Charita Chandra dan Jenjang Karirnya di Departemen Kamera
Charita Chandra (1998) – menikah selama dua belas tahun dan telah memiliki dua anak. Setelah berumah tangga adakah keinginan untuk kembali ke dunia sinematografi? Charita dikenal sebagai satu-satunya Female Underwater Cinematographer.Charita banyak aktif di dokumenter khususnya di underwater. Ia masih aktif pasca menikah hingga punya anak pertama. Kemudian ia mulai vakum lama pasca anak kedua – sudah 7 tahun. Ia lalu memutuskan konsen mengurus keluarga – ia menyudahi dulu sinematografi sebagai sumber mencari nafkah. Namun, untuk urusan passion – proyek independen tetap berjalan. Dokumenter dan sinematografi tetap ia jalani.
Charita menceritakan pengalamannya belajar scubadiving. Ada hal-hal teknis yang perlu dipelajari secara mendalam ketika ia harus menyelam ke dalam air – Antara aman dan tidak aman. Apalagi jika mendapatkan tantangan untuk mengambil gambar pada kedalaman tertentu. Menurut Charita, selama dilakukan sesuai prosedur, prosesnya akan aman-aman saja. Ketika sudah menyelam, ia akan ambil shot sebanyak mungkin – karena bisa saja itu
dibutuhkan. Dalam prosesnya juga mesti adanya keyakinan terhadap tim. Bella Pangabean dan Jenjang Karirnya di Departemen Kamera
Bella Pangabean berangkat dari komunikasi – bagian advertising. Dimulai dari kesenangannya pada fotografi, Ia kemudian memulainya dari pengawal alat, kemudian asisten kamera, camera operator sampai menjadi Director of Photography / DP TVC pada 2018. Pertama kali ia mendapat tawaran membuat film dari rekan fakultas, namun saat itu ia belum mengenal apa itu DP, sebelum akhirnya itu menjadi pilihannya sebagai profesi.
Keistimewaan menjadi seorang woman/ female cinematographer. Di mata Angela – ia merasa vocabulary warna pada perempuan itu lebih kaya dibanding laki-laki. Neuronnya lebih beragam. Ada yang meneliti mengenai itu. Seperti contohnya, bagi perempuan warna hijau tidak hanya satu, ada hijau pupus, hijau army, hijau daun, dan lain lain. Sementara bagi laki
laki hijau hanyalah hijau. Selain itu, management – Itu adalah kekuatan perempuan.
Sesi Tanya Jawab
Bagaimana saat seorang Sinematografer perempuan mengalami titik jenuh atau tekanan?
Titik jenuh dapat dilihat secara beragam. Titik Jenuh Anggi ada di film kedua – ia merasa film tersebut tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Ia mulai mencoba mengubah energi negative menjadi energi positif. Jadi segala sesuatu yang dianggap masalah, diubah menjadi sebuah tantangan. Masalah itu diswitch jadi challenge.
Menyikapi kejenuhan, Bagi Amalia setiap orang berbeda-beda. Ia justru akan merasa jenuh jika tidak menjalani shooting. Jika sudah bicara passion, justru itu akan susah lepas. Malah sulit menemukan kejenuhan.
Bagaimana bentuk sexual harassment kepada perempuan di departemen kamera?
Masing-masing dari mereka menceritakan pandangan dan pengalamannya mengenai sexual harassment – Angela merasa itu bisa terjadi secara verbal. Mungkin bisa disiasatinya dengan bercanda.
“Dari diri kita masing-masing mesti bisa menakar arah dari semua itu. Bila memang dari verbal dirasa sudah naik step ke hal yang tidak pantas, baru bertindak”. -Angela Andreyanti
Menurut Anggi kita harus bisa membaca – seperti contohnya bisa memahami atasan yang secara mulut mungkin memang ‘sampah’, tetapi hatinya baik. Terkadang ia menganggap hal itu baik bagi perkembangannya, agar mentalnya lebih kuat. Sebenarnya ekosistem juga mempengaruhi, bagaimana attitude laki-laki yang ada di departemen kita.
lingkungan juga perlu untuk membentengi sexual harrasement, harus punya mekanisme sendiri untuk melawan itu – Full support terhadap sistem.
“Ketika suatu saat menjadi sinematografer, kita juga perlu menciptakan ruang lingkup yang free sexual gender, harus saling respect sama masing-masing profesi yang dijalanin”. -Anggi Frisca
Kemudian, Amalia menceritakan penting untuk kita tahu bagaimana membawa diri. Dulu Ia sempat mengalami perlakuan yang kurang mengenakkan secara fisik. Hal itu membuat ia harus semakin menjaga diri, dan belajar mensiasati apabila hal itu terjadi lagi. Seperti saat ia mendapat perlakuan tersebut, ia harus mampu membaca situasi yang tepat untuk menindak lanjuti, karena menurutnya itu adalah hal yang tidak boleh dibiarkan.
“Jaman dulu untuk speak up itu sulit, bahkan untuk meminta perlindungan aja tidak tahu harus kemana – apalagi disaat masih membangun karir. Ada ketakutan hal itu akan mengancam karir – takut jadi gak ada callingan. Sekarang setidaknya pembahasan Sexual harassment sudah sedikit lebih terbuka. Sudah mulai diperbincangkan. Apalagi udah jamannya viral – semua bisa diviralin lewat media”. - Amalia Trisnasari
Menurut Bella, sexual harrasement bagi women cinematographer pasti terjadi, dengan pengalaman personal masing-masing. Yang perlu dipertanyakan, saat itu terjadi apakah kita nyaman? Sedangkan kita akan terus berada di siklus itu. Ini adalah hal penting.
“Apabila kita merasa mental health kita terganggu, lebih baik lapor. Kadang Kita yang sakit – kita yang stress – orang tidak ada yang tahu. Itu hal yang sangat menggangu”. -Bella Panggabean-
Diskusi pada tema kali ini cukup dinamis, pertanyaan yang dilontarkan tidak hanya dari pihak perempuan saja, namun banyak juga dari pihak laki-laki yang ingin mengetahui perspektif lebih dari seorang perempuan di departemen kamera. Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari sesi kali ini yakni,
1. Perempuan mesti memiliki knowledge dan skill yang sama dengan laki-laki. Skill itu bisa diasah terus menerus. Selain itu Attitude juga hal yang penting.
2. Menjadi perempuan ternyata bukanlah “batasan” untuk bisa menjadi seorang Sinematografer. Masing-masing dari kita harus saling respect dengan profesi yang dijalani.
3. Tidak ada perbedaan jenjang karir yang dilewati oleh prempuan dan laki-laki. Semua melewati jenjang yang sama, baik dari gulung kabel, lighting, gaffer, asisten kamera, operator kamera, hingga sinematografer.
4. Perspektif masing-masing dari women/ female cinematographer mengenai Sexual harassment membuktikan bahwa, Lingkungan kerja di departemen kamera ternyata belum cukup ramah terhadap perempuan. Sehingga dirasa cukup penting untuk menindak lanjuti hal-hal tersebut, demi menciptakan lingkungan industri yang sehat, nyaman dan jauh dari segala bentuk pelecehan.
